Apa Makna Maulid Nabi Muhammad saw. Bagi Kita?


Hampir mayoritas ummat Islam dunia memperingati bahkan merayakan tanggal kelahiran nabi Muhammad saw. setiap tahunnya dengan cara dan bentuk yang beragam, dari yang biasa sampai yang luar biasa, dari yang kecil-kecilan sampai yang besar-besaran, dari yang di rumah sampai yang di lapangan. Bahkan dari yang sekedar bersholawat dan berceramah sampai kepada yang melakukan pawai dan arak-arakan. Namun tidak pula sedikit ummat Islam yang justru habis-habisan melarang, membid’ahkan dan mengharamkan berbagai peringatan dan perayaan maulid nabi Muhammad saw. Itulah fakta dan realita yang terjadi di tengah-tengah kita ummat yang menganut agama Islam, agama yang dengan susah payah, lumuran darah dan keringat telah disampaikan oleh Muhammad  Rasulullah saw.

Di tengah hingar bingar yang ada, pernahkah kita bertanya dan menemukan jawaban tentang apa sesungguhnya misi nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. kepada kita ummatnya. Lalu apa yang harus kita contoh dari kehidupannya yang mulia sepertimana yang Allah ungkapkan dalam firman-Nya, melalui lisan yang mulia Rasulullah saw:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (al Ahzab 21)

Kalimat Uswatun hasanah atau contoh yang baik pada diri Rasulullah sering direfleksikan sebagai Sunnah dalam kehidupan kita ummat Islam. Dalam hal ini semua ulama sepakat bahwa mengikuti sunnah itu adalah hal yang sangat dianjurkan bahkan mendekati wajib jika hal itu berlandaskan wahyu Allah swt. Mengikuti sunnah Rasul dalam berbagai hal sisi kehidupan bukanlah sesuatu yang tak berdasar dan tak berbalas di sisi Allah. Simaklah firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 31 berikut;

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31)

Berdasarkan ayat tersebut, kesungguhan kita menjalankan segala sunnah Rasulullah dalam menunjukkan kecintan kita kepada Allah akan dibalasi dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Sungguh beruntung mereka yang sampai akhir hayatnya selalu diliputi oleh kasih dan ampunan Allah, sebaliknya alangkah sialnya mereka yang selama hidupnya jauh dari kasih dan ampunan Allah.

Dari sekian rentetan sunnah Rasulullah saw. hal yang paling menonjol dan senantiasa disuarakan oleh para ulama adalah akhlaq Rasulullah saw. Bahkan, Allah swt. dzat yang maha mulia telah memberikan pengakuan akan kemulian akhlaq yang dimiliki oleh beliau dengan firman-Nya dalam surat al qolam ayat 4;

dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.  (al Qolam 4)

Jika kemudian kita menghubungkan ayat tersebut dengan kata uswatun hasanah yang tersebut dalam surah al Ahzab ayat 21, maka kita akan menemukan titik temu dan benang merah yang jelas tentang sunnah apa yang Allah perintahkan kepada kita untuk diteladani dari diri Rasulullah saw. yaitu kemulian akhlaq. Hal tersebut sejalan dan senada dengan apa yang disabdakan oleh Rasullullah saw, dalam sebuah hadits, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sungguh aku diutus menjadi Rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).”

Pada sebagian riwayat:

 لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

”Untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Bahkan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash telah meriwayatkan bahwa Rasul pernah bersabda:

إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا

“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. al-Bukhari, 10/378 dan Muslim no. 2321)

Berbicara akhlaq Rasulullah, mayoritas ulama sepakat bahwa akhlaq beliau adalah al-quran, sepertimana yang disebutkan oleh siti Aisyah yang sering dikutip dalam berbagai syair dalam kitab klasik seperti kitab barzanji atau kitab salafy lainya. Artinya segala bentuk perbuatan Rasulullah dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali bahkan tidur itu sendiri adalah dalam rangka mengamalkan alquran, kitab yang di dalamnya terkandung perintah dan larangan Allah.

Lalu bagaimanakah akhlaq alquran Rasullah saw. itu? Mari kita simak firman Allah dalam surat al qoshosh ayat 77;

dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (al Qashosh 77)

Dari ayat tersebut, Secara pribadi saya menyimpulkan bahwa akhlaqul quran yang menjadi sunnah Rasulullah yang kemudian wajib kita ikuti adalah terbagi dalam 4 pokok yang utama, yaitu:

1. Bersungguh-sungguh dalam mencari bekal untuk kebahagian di akhirat

Hal ini dapat kita ketahui melalui berbagai hadist tentang bagaimana kesungguhan Rasulullah dalam mencari kebahagian akhirat, beliau sangat serius dalam melakukan ibadah wajib maupun sunnat, seringkali kaki Rasulullah terlihat bengkak karena terlalu lama berdiri ketika sholat tahajud di setiap malam harinya. Rasulullah juga terkenal sangat dermawan dan pemurah dalam bersedekah kepada fakir miskin, air mata beliau seringkali becucuran ketika membaca al-quran, beliau juga diceritakan sering melakukan puasa sunnat pada setiap bulannya. Dan segala bentuk ibadah itu akan meningkat kuantitas dan kualitasnya tatkala memasuki bulan Ramadhan setiap tahunnya

2.Tidak melalaikan hak dan kewajiban duniawi dalam kehidupan sehari-hari

Mengenai hal tersebut, banyak riwayat yang menceritakan bagaimana pergaulan dan partisipasi beliau dalam hal-hal yang bersifat duniawi. Beliau makan dan berpakaian lazimnya masyarakat Arab, menikahi perempuan-perempuan muslimah, menjadi seorang ayah yang baik bagi anak-anak kandung atau anak tirinya, menjadi majikan yang baik bagi pembantu dan sahayanya, berjalan-jalan di pasar, memenuhi undangan pernikahan, berkumpul(kongkow) dan makan bersama para sahabatnya, turut bergotong royong jika ada pekerjaan yang dilakukan bersama, dan bercengkrama/bersendagurau dengan cucu-cucunya.

3. Berbuat sebaik mungkin kepada sesama makhluq Allah

Sejarah mencatat bagaimana beliau memperlakukan orang-orang disekitarnya, baik yang mencintainya ataupun yang memusuhinya. Beliau amat mengutamakan orang lain dalam berbagai hal kebaikan. Beliau dikenal pemaaf dan tidak pendendam kepada siapa pun yang menyakitinya, bahkan jika dicaci dan dihina sekalipun beliau hanya diam dan tidak menjawab. Menjelang akhir hayatnya beliau mempersilahkan kepada siapa saja yang merasa pernah disakiti olehnya baik sengaja ataupun tidak untuk memberikan balasan yang setimpal kepada beliau. Karenanya kewafatan beliau menjadi kesedihan yang amat mendalam bagi ummat Islam ketika itu, hal tersebut menjadi bukti betapa baiknya perilaku beliau di mata para sahabatnya.

4. Menjaga dan memelihara keseimbangan dan kelestarian alam dan lingkungan.

Kepedulian Rasulullah terhadap kelestarian alam dan lingkungan sangat nyata tatkala beliau melarang pasukan muslim menebang/membakar pohon atau merusak tempat ibadah atau bangunan pada setiap peperangan dan ekspansi yang terjadi. Bahkan dalam hal kebersihan diri dan lingkungan sampai-sampai beliau menyifati kebersihan itu bagian dari keimanan kita kepada Allah, itu artinya tidak sempurna iman seorang muslim jika diri dan lingkungannya kotor/tidak bersih. Terdapat pula hadist yang melarang kita menyakiti binatang yang tidak kita makan, mengencingi lubang tempat semut/serangga bersarang, lebih dari itu beliau adalah seorang gembala yang disukai oleh ternaknya karena kelembutan dan kasih sayangnya kepada hewan.

Melalui ulasan yang singkat ini, saya menyeru kepada segenap ummat Islam baik yang memperingati hari kelahiran Rasulullah ataupun yang tidak, untuk meningkatkan pemahaman diri tentang 4 pokok akhlaq Rasulullah yang mulia sepertimana telah diuraikan, lalu mari bersama-sama kita tunjukkan kepada lingkungan kita bahkan kepada dunia akan kemulian ajaran Islam dengan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah secara kaffah/menyeluruh dan tidak secara parsial. Mudah-mudahan karenanya kemudian Allah menurunkan rahmat dan ampunannya kepada kita sekalian sehingga kita dapat dipertemukan dengan Nabi Muhammad saw dalam keadaan sejahtera di akhirat kelak.

Waallu’alam,

Abdullah.

Tentang Abdullah Attaufiq

Alumnus Pascasarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta
Tulisan ini dipublikasikan di Materi Khutbah, Nasehat. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apa Makna Maulid Nabi Muhammad saw. Bagi Kita?

  1. Dinda berkata:

    Terimakasih banyak nih kaka artikelnya … saya jadi tauu … :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s